Jakarta, Wartakotalive.com
Selain orang China, orang Arab merupakan golongan minoritas
terpenting kedua di Batavia. Sayang, kajian historis atas orang Arab
masih sedikit. Mungkin karena jumlah mereka dibandingkan orang China
dianggap kecil.
Di Batavia, kampung Arab ada di Pekojan. Orang sering juga
menyebutnya "Kawasan Moor", terletak antara Ammanusgracht (Jalan
Bandengan Selatan) dan Bacherachtsgracht (Jalan Pekojan). Permukiman ini
mulai muncul pada abad ke-17.
Namanya berasal dari Koja, sebutan bagi para pendatang dari Gujarat.
Selanjutnya, istilah itu digunakan juga oleh orang-orang yang berasal
dari pesisir Coromandel dan Malabar. Gujarat, Coromandel, dan Malabar
terletak di India. Beberapa masjid tua masih terdapat di Pekojan,
berasal dari masa 1648 hingga 1750, tapi beberapa rumah Moor telah
hancur.
Dulu memang pemerintah kolonial mengeluarkan aturan bahwa etnis-etnis
tertentu dikelompokkan pada wilayah-wilayah tertentu. Meskipun begitu,
banyak orang Arab kelas bawah keturunan campuran berhasil menetap —tentu
saja secara ilegal— di luar Pekojan.
Pada akhir abad ke-19 beberapa orang Arab berhasil tinggal di
tengah-tengah orang Eropa dan Indo di pinggiran Krukut dan Tanahabang.
Rumah mereka besar dan bagus seperti milik orang-orang Eropa. Sisanya
bertebaran di kampung-kampung pribumi.
Setelah penghapusan sistem permukiman pada 1919, sebagian besar orang
Arab dari kawasan Pekojan yang terlalu padat, pindah ke Krukut,
Petamburan, dan Tanahabang. Dari sana, populasi Arab juga menyebar ke
daerah-daerah lain, seperti Sawahbesar, Jatinegara, dan Tanahtinggi
(Jakarta Batavia: Esai Sosio-Kultural, 2007).
Pada awal abad ke-19 tercatat sekitar 400 orang Arab dan Moor tinggal
di Batavia. Jumlah orang Arab secara eksplisit baru disebutkan pada
1859, yakni 312 orang. Pada 1870 jumlah mereka berlipat tiga kali lebih.
Pada 1885 Batavia menampung 1.448 penduduk Arab, 972 di antaranya lahir
di Hindia Belanda. Antara 1900-1930 minoritas Arab bertambah dari 2.245
menjadi 5.231.
Menurut sensus 1930, minoritas Arab telah berkembang menjadi sebuah
komunitas mapan. Kalau tadinya jumlah komunitas Arab terbesar terdapat
di Surabaya, sejak sensus itu komunitas terbesar beralih ke Batavia.
Kedatangan orang Arab dari Hadramaut terjadi sejak pembukaan Terusan
Suez pada 1869. Kaum pendatang itu umumnya laki-laki. Mereka kemudian
menikah dengan perempuan setempat. Hingga pendudukan Jepang, para
pendatang tetap memelihara hubungan rapat dengan kerabat mereka di
Hadramaut.
Tag :
wisata,
wisata religi
